Hukum-Hukum Tentang I’tikaf

I’tikaf adalah satu diantara ibadah yang disunnahkan, baik bagi laki-laki maupun bagi wanita, baik di luar Ramadhan sebagaimana pendapat jumhur ulama (1); dan lebih khusus lagi di bulan Ramadhan, sebagaimana keterangan dari al Quran, sunnah maupun ijma’ (kesepakatan para ulama).

Dalil Disyari’atkan
Tentang dalil disyari’atkannya ibadah ini, maka diantaranya adalah;

1. Firman Allah -ta’ala-’;

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.” (al Baqarah; 187)

2. Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa beri’tikaf sepuluh akhir dari bulan Ramadhan hingga Beliau diwafatkan oleh Allah. Kemudian setelah Beliau wafat, para istrinya –pun melaksanakan I’tikaf.”[HR. Bukhari].

3. Konsensus (ijma’) para ulama sebagaimana yang dinukil oleh imam Ibnu Qudamah -rahimahullah-, dari pernyataan imam Ibnu al Mundzir -rahimahullah-;

أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ الِاعْتِكَافَ سُنَّةٌ لَا يَجِبُ عَلَى النَّاسِ فَرْضًا ، إلَّا أَنْ يُوجِبَ الْمَرْءُ عَلَى نَفْسِهِ الِاعْتِكَافَ نَذْرًا ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ

“Para ulama telah bersepakat bahwa I’tikaf adalah ibadah yang hukumnya sunnah, bukan wajib. Namun jika seorang mewajibkannya atas dirinya (nadzar), maka ibadah tersebut –pun menjadi wajib.”[Al Mughni].

Defenisi I’tikaf
Secara bahasa I’tikaf berarti;

لزوم الشئ

“Tetapnya sesuatu pada suatu keadaan”.

Adapun secara istilah, maka beberapa ulama mendefiniskannya sebagai;

لزوم مسجد لعبادة الله تعالى من شخص مخصوص على صفة مخصوصة.

“Menetapnya seorang (muslim) tertentu –yang memenuhi syarat- dengan beberapa ketentuannya di sebuah masjid dalam rangka ibadah kepada Allah.”.

Keutamaan I’tikaf
I’tikaf adalah ibadah yang sangat ditekankan di bulan Ramadhan, yaitu bagi orang-orang yang memiliki kelapangan dan tidak berhalangan. Imam az Zuhri –rahimahullah- berkata;

عَجَبًا مِنْ النَّاسِ كَيْفَ تَرَكُوا الِاعْتِكَافَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَيَتْرُكُهُ وَمَا تَرَكَ الِاعْتِكَافَ حَتَّى قُبِضَ

“Sungguh aneh manusia, bagaimana mungkin mereka meninggalkan I’tikaf, sedangkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- terkadang melakukan sesuatu dan terkadang pula meninggalkannya. Namun tidak demikian dengan I’tikaf, Beliau terus melaksanakannya hingga wafatnya.”.

Adapun perincian dari keutamaan ibadah ini, diantaranya adalah;

1. I’tikaf merupakan wasilah (cara) yang digunakan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Abu Sa’id al Khudri –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ … قَالَ إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan. Kemudian Beliau beri’tikaf pada sepeluh hari pertengahan … Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata; ‘Saya pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan agar saya bisa mendapati lailatul qadr. Kemudian saya beri’tikaf pada sepeluh hari pertengahan. Lantas (malaikat) datang mengabariku bahwa lailatul qadr itu jatuh pada sepuluh malam terakhir. Olehnya, siapa diantara kalian yang ingin beri’tikaf, maka lakukanlah.’. Mendengar itu, para sahabat pun beri’tikaf bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”[HR. Muslim].

2. Orang yang melakukan i’tikaf akan dengan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinyu dan berjamaah, bahkan dengan i’tikaf seseorang selalu beruntung atau paling tidak berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah.

3. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam masjid, dan menjadikan hatinya terpaut pada masjid.

4. I’tikaf akan menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan.

5. I’tikaf membiasakan seorang hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

Demikian beberapa keutamaan dari ibadah ini, yang diambil dari keumuman dalil-dalil tentang ibadah-ibadah yang dianjurkan –khususnya- di bulan Ramadhan. Namun demikian, tidak ada satupun keterangan shahih dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang secara khusus menjelaskan tentang keutamaan ibadah ini. Abu Daud –rahimahullah- berkata;

قلت لأحمد تعرف في فضل الاعتكاف شيئاً؟ قال: لا، إلا شيئاً ضعيفاً

“Apakah engkau mengetahui sebuah dalil shahih berkaitan dengan keutamaan beri’tikaf ?. Beliau –rahimahullah- berkata; ‘Tidak, kecuali beberapa dalil yang lemah.’.”.

Syarat I’tikaf
Dari defenisi i’tikaf yang telah disebutkan diketahui bahwa ibadah ini memiliki ketentuan-ketentuan khusus. Ketentuan-ketentuan itu berupa syarat dan rukun. Maka syarat-syarat i’tikaf adalah;

1. Islam
Diantara dalilnya adalah firman Allah –ta’ala-;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِه

”Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.”. (at Taubah; 54). Selain itu, ulama telah sepakat akan dimasukkannya hal ini sebagai syarat diterimanya ibadah i’tikaf seseorang.

2. Berakal
Point yang kedua ini –juga- adalah hal yang telah disepakati oleh para ulama, karena akal ini adalah merupakan syarat sahnya ibadah yang dilakukan oleh seseorang. Ali –radhiyallahu ’anhu- berkata;

أَنَّ الْقَلَمَ رُفِعَ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يُدْرِكَ وَعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ

”Tiga kelompok manusia yang dibebaskan dari pembebanan agama yaitu seorang yang gila hingga ia sadar, seorang anak kecil hingga ia dewasa, dan seorang yang tidur hingga ia bangun.”[HR. Bukhari].

3. Mumayyiz
Syarat yang ketiga ini pun adalah syarat yang telah disepakati oleh para ulama. Yang dimaksud dengan mumayyiz adalah seorang yang mampu memahami dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, mampu memahami tindakan yang ia lakukan.

4. Niat
Syarat ini –sebagaimana syarat-syarat sebelumnya- juga telah disepakati oleh para ulama, berdasarkan keterangan-keterangan yang sama dengan keterangan-keterangan yang telah disampaikan sebelumnya tentang disyaratkannya akal dalam setiap pembebanan agama.

5. Suci dari haid dan nifas
Jumhur ulama menyatakan bahwa salah satu dari syarat sahnya i’tikaf seseorang adalah sucinya orang tersebut dari haid, nifas dan junub. Pada hakikatnya, persyaratan demikian ini –setidaknya wallahu a’lam- berpulang dari dua hal;

A. Salah satu dari rukun-rukun i’tikaf adalah puasa –sebagaimana yang akan dikemukakan, sedangkan wanita haid dan nifas haram untuk berpuasa. Olehnya, maka i’tikaf –pun bagi mereka adalah hal yang tidak diperbolehkan.
B. Rukun yang lain berkenaan dengan i’tikaf ini adalah menetap di dalam masjid. Bertolak dari hal ini dan karena wanita haid, nifas, dan seorang yang tengah junub tidak boleh berada lama di dalam masjid, maka dinyatakanlah bahwa hal ini adalah syarat diterimanya ibadah i’tikaf seseorang.
Demikianlah pendapat dari mayoritas ulama, yang tentunya didasari dengan dalil-dalil agama. Diantara dalil-dalil tersebut adalah;

a. Firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا [النساء/43]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula engkau hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (An-nisaa’; 43)

b. Riwayat Aisyah –radhiyallahu ’anha-;

كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله بإخراجهن من المسجد

”Dahulu ketika para wanita yang beri’tikaf kedatangan haid, maka Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- meminta mereka agar keluar dari masjid.”.

Demikian diantara dalil yang dikemukakan oleh mayoritas ulama. Hanya saja –khusus berkenaan dengan orang yang junub-, maka ada riwayat yang memuat dispensasi bagi mereka yang berwudhu setelah junub, bahwa mereka dibolehkan tetap berada di dalam masjid meski dalam keadaan junub. Riwayat tersebut disampaikan oleh Zaid bin Aslam;

أن بعض أصحاب النبي صلّى الله عليه وسلّم، كانوا إذا توضؤوا جلسوا في المسجد

”Pernah sebagian dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam tetap menetap di dalam masjid, yaitu bila mereka berwudhu setelah junub tersebut.”[Ibnu Abi Syaibah].

Maka sebagai kesimpulan bahwa syarat sahnya i’tikaf seseorang adalah;
1. Islam
2. Berakal
3. Mumayyiz
4. Niat
5. Suci dari haidh dan nifas

Rukun I’tikaf
Dari defenisi yang telah disebutkan, maka diketahui pula bahwa ibadah ini memiliki beberapa rukun, yaitu;

1. Niat
Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-;

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Setiap amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya.”[HR. Bukhari]. Olehnya, jika seorang menetap di dalam masjid dengan maksud untuk menghindari keramaian, maka menetapnya orang tersebut tidaklah dinamakan sebagai I’tikaf.

2. Menetap di masjid
Diantara dalillnya adalah firman Allah -ta’ala-;

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]

“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.”. (al Baqarah; 187).

Hal yang mesti diketahui bahwa yang dimaksud dengan masjid dalam ayat ini adalah masjid yang digunakan untuk shalat lima waktu. Tentu yang demikian ini berlaku bagi orang-orang yang wajib melaksanakan shalat lima waktu secara berjama’ah.

Adapun wanita, maka tidak mengapa ia beri’tikaf di masjid mana saja, meski tidak rutin digunakan untuk shalat berjama’ah dalam lima waktu. Namun hal yang pasti bahwa tempat itu adalah masjid dalam pengertiannya secara istilah, yaitu tempat yang pada asalnya dibangun untuk masjid.

Tidak termasuk dalam kategori ini bagian dalam rumah yang dijadikan sebagai mushallah, dan bukan pula ruangan atau aula kantor yang difungsikan sebagai masjid pada jam-jam kantor yang fungsi asalnya bukanlah sebagai masjid melainkan ruangan itu adalah aula pertemuan. Seluruh jenis ruangan ini tidaklah termasuk dalam kategori masjid yang dibolehkan untuk beri’tikaf didalamnya, baik oleh wanita –terlebih- bagi laki-laki. Hal ini disebabkan –sekali lagi- karena ruangan-ruangan tersebut bukanlah masjid secara istilah.

Diantara dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa ruangan-ruangan tersebut tidaklah masuk dalam kategori masjid secara syar’I bahwa seorang wanita yang haid tidaklah dilarang untuk memasuki ruangan atau aula tersebut, dan tidak pula dilarang untuk menetap dalam waktu lama di tempat itu, hal mana menunjukkan bahwa ruangan tersebut bukanlah masjid. Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata;

لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ

“Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid jami’e.”[HR. Abu Daud]. Dalam redaksi lain disebutkan;

لا اعتكاف الا فى مسجد جماعة

“Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid jama’ah.”[HR. Baihaqi].

Masalah lainnya, berkenaan dengan hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha- yang telah dibawakan, diketahui dari hadits tersebut bahwa keumaman makna ayat yang berisi syari’at I’tikaf di masjid dibatasi dengan hadits Aisyah yang telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan masjid adalah ‘masjid jama’ah’.

Lantas beberapa ulama ada yang lebih mempersempit lagi makna ‘masjid’ yang disebutkan dalam ayat tersebut. Mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘masjid’ dalam ayat itu adalah ‘masjid yang tiga, yaitu; Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha’. Pembatasan makna ini didasarkan pada sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yang disampaikan oleh Hudzaifah bin al Yamaan -radhiyallahu ‘anhu-;

لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس

“Tidak ada I’tikaf melainkan pada tiga masjid, yaitu; al masjidil haram, masjid nabawi dan masjidil aqsha.”. Maka berdasarkan keterangan ini dikatakan bahwa keumumam makna yang ditunjukkan oleh ayat hendaknya dibatasi oleh kekhususan hadits Hudzaifah, karena hadits –sebagaimana dipahami- merupakan penjelasan dari kalam Ilahi.

Demikian argument yang disampaikan oleh golongan ulama yang membatasi keumuman makna ‘masjid’ yang tersebut dalam ayat kepada makna khusus yang disebutkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun kebanyakan ulama menolak argument yang telah disebutkan. Alasan penolakan tersebut diantaranya bahwa penafian yang ditunjukkan oleh hadits Hudzaifah mengandung dua pengertian;

1. Penafian terhadap kesempurnaan ibadah tersebut (nafyu kamaal)
2. Penafian terhadap sahnya ibadah itu (nafyu shihhah)

Bertolak dari hal yang telah disebutkan dan dengan mempertimbangkan dua hal berikut, yaitu;
1. Keumuman makna ’masjid’ yang disebutkan dalam ayat al Quran
2. Kaidah yang mengatakan;

إذا تردد الحديث بين معنيين: معنى يعارض به نصا، ومعنى لا يعارض به النص، وأشعر معنى النص بأحد المعنيين وجب صرفه عليه

”Apabila sebuah hadits memiliki dua kemungkinan makna. Kemungkinan makna pertama bertolak belakang dengan nash (makna tekstual) sebuah dalil, sedangkan kemungkinan makna kedua tidak bertolak belakang dengan nash dalil tersebut, maka wajib membawa pengertian hadits tersebut kepada makna yang tidak bertolak belakang dengan keumuman makna dalil yang lain.”.

Maka dengan mempertimbangkan dua hal yang telah disebutkan –kebanyakan ulama- menyatakan bahwa maksud penafian yang disebutkan dalam hadits Hudzaifah adalah ’nafyu kamaal’ (penafian terhadap kesempurnaan ibadah tersebut) dan bukan ’nafyu shihhah’ (penafian terhadap sahnya ibadah itu).

Argumen ini –sebagaimana yang nampak- cukup logis. Hanya saja bila melihat riwayat Hudzaifah –radhiyallahu ’anhu- secara lengkap, maka sangat sulit rasanya membawa pengertian ’penafian’ yang ditunjukkan oleh hadits Beliau kepada makna awal (penafian terhadap kesempurnaan ibadah tersebut). Adapun lafadz hadits Hudzaifah –radiyallahu ’anhu- secara lengkap yaitu;

عن أبي وائل قال : قال حذيفة لعبد الله [ يعني ابن مسعود رضي الله عنه ] : [ قوم ] عكوف بين دارك و دار أبي موسى لا تغير ( و في رواية : لا تنهاهم ) ؟!, و قد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ’لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة‘ . فقال عبد الله : لعلك نسيت و حفظوا ، أو أخطأت و أصابوا

“Abu Waail berkata; Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- berkata kepada Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-; ‘Apakah engkau tidak melarang orang-orang yang I’tikaf (di masjid) yang terlatak antara rumahmu dan rumah Abu Musa ?!, sedangkan aku tahu bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; tidak ada I’tikaf kecuali di tiga masjid ?!.’. Kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata; ‘Mungkin engkau lupa dan mereka yang ingat, atau engkau keliru dan merekalah yang benar.’.”[Silsilah Ahaadits As Shahihah]. Hadits ini secara jelas menunjukkan pengingkaran yang nyata dari Hudzaifah terhadap perlakuan orang-orang yang diketahuinya beri’tikaf selain di tiga masjid sebagaimana yang diketahuinya dari hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang Beliau sampaikan. Dan secara tekstual, sangat sulit membawa makna dari pengingkaran tersebut kepada ‘pengingkaran yang tertuju pada –semata- kesempurnaan ibadah itu.

Jawaban dari ulasan tadi, mungkin dikatakan bahwa pernyataan Ibnu Mas’ud, ‘Mungkin engkau lupa dan mereka yang ingat, atau engkau keliru dan merekalah yang benar.’, mengandung jawaban secara tersurat akan ketidaksetujuan Beliau terhadap apa yang disebutkan oleh Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu-. Hanya saja, -mungkin juga dikatakan- terhadap tanggapan tersebut bahwa yang dipahami dari pernyataan Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- adalah ketidaktahuan Beliau terhadap kabar yang disampaikan oleh Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- atau Beliau tahu akan kabar tersebut, namun Beliau memiliki persepsi lain terhadap makna dari penafian yang disebutkan oleh Hudzaifah dari hadits yang Beliau bawakan. Maka karena adanya kesimpangsiuran ini, hendaknya seorang kembali berpegang kepada makna asal dari penafian yang ditunjukkan oleh hadits Hudzaifah, dan tidak bergeser darinya kecuali ada keterangan yang jelas dan benar.

Dari ulasan ini, nampak bahwa pendapat golongan yang tidak membatasi i’tikaf itu pada tiga masjid lebih kuat. Hadits Hudzifah meski sangat jelas berisi pengingkaran, namun nampaknya pengingkaran Beliau ini tidak lazim dikalangan sahabat yang lainnya, diantaranya Ibnu mas’ud. Olehnya maka Beliau (Ibnu mas’ud) memberi pernyataannya, dan tidak langsung menerima penafian yang disampaikan oleh Hudzaifah –radhiyllahu ‘anhu-.

Diantara keterangan lain yang menyelisihi keterangan Hudzaifah adalah riwayat Ibnu Abi Mulaikah;

اعتكفت عائشة بين حراء وثبير فكنا نأتيها هناك وعبد لها يؤمها

“Aisyah –radhiyallahu ‘anha- pernah beri’tikaf di Masjid yang terletak antara ‘Hirra’ dan ‘Tsubair’. Maka kami pernah mendatanginya, dan seorang budaknya bertindak sebagai imam shalat.”[HR Abdul Razzaq]. Diriwayatkan juga dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma;

لا اعتكاف إلا في مسجد تجمع فيه الصلوات

“Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid yang didalamnya didirikan shalat –shalat berjama’ah.”[94].

Hal lain yang juga berkenaan dengan syarat I’tikaf adalah apakah puasa merupakan satu diantara syarat sahnya I’tikaf atau ia bukan merupakan salah satu syaratnya ?

Beberapa ulama memandang bahwa puasa adalah salah satu syarat sahnya ibadah I’tikaf. Diantara dalilnya adalah hadits Aisyah –radhiyallahu ‘anha-;

لَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ

“Tidak ada I’tikaf kecuali dengan puasa.[HR. Abu Daud]”

Ulama yang lainnya berpendapat bahwa puasa bukanlah merupakan syarat sahnya ibadah I’tikaf, hanya jika ia melakukannya –tentulah- lebih baik. Diantara dalilnya adalah;

1. Hadits Umar -radhiyallahu ‘anhu-, Beliau berkata;

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إنِّي نَذَرْت فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ .فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْفِ بِنَذْرِك

“Wahai Rasulullah, dahulu di masa jahiliyyah saya pernah bernadzar akan berpuasa semalam di masjidil haram. Mendengar itu, Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- bersabda; ’Laksanakanlah nadzarmu itu.’.[HR. Bukhari]”. Dari hadits ini diketahui bahwa andaikan puasa itu adalah rukun sahnya i’tikaf –tentu- Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- tidak akan merekomendasikan Umar untuk berpuasa di malam hari, karena malam hari bukanlah waktu untuk berpuasa.

2. Hal yang dimaklumi bersama bahwa Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- beri’tikaf di bulan Ramadhan, sedangkan di bulan Ramadhan tidak boleh meniatkan puasa selain puasa Ramadhan.

3. Malam hari bagi orang yang beri’tikaf tidaklah berbeda dengan siang harinya, sedangkan malam hari itu bukanlah waktu berpuasa. Karenanya, maka puasa bukanlah hal yang diwajibkan.

Demikian beberapa argument yang dikemukakan oleh golongan yang tidak mempersyaratkan puasa pada ibadah i’tikaf. Namun demikian, pendapat yang lebih kuat in sya Allah adalah pendapat golongan ulama yang menjadikan puasa sebagai rukun sahnya ibadah i’tikaf. Diantara alasannya adalah;

1. Makna tekstual yang dipahami dari pernyataan Aisyah –radiyallahu ’anha-.

2. Adapun hadits Umar –radiyallahu ’anhuma- sebagaimana yang dikemukakan oleh golongan yang tidak mempersyaratkan puasa, maka lafadz haditsnya bermacam-macam. Diantara lafadz haditsnya adalah sebagaimana redaksi yang telah disebutkan,

إنِّي نَذَرْت فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

”Wahai Rasulullah, dahulu di masa jahiliyyah saya pernah bernadzar akan berpuasa semalam di masjidil haram.”. Dalam redaksi lainnya dinyatakan;

إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ يَوْمًا

”Dahulu di masa jahiliyyah, saya pernah bernadzar akan berpuasa sehari.[HR. Muslim]”.

Maka bertolak dari kedua keterangan ini, sebagian ulama ada yang mencoba mengkompromikan keduanya dengan menyatakan bahwa nadzar Umar ketika itu adalah i’tikaf sehari semalam. Menguatkan hal ini adalah redaksi lain dari hadits ini yang menyebutkan;

أن عمر قال للنبى عليه السلام بالجعرانة: إنى نذرت أن أعتكف يومًا وليلة

”Ketika berada di ’Ji’raanah’, Umar –radiyallahu ’anhu- berkata kepada Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam-; sesungguhnya saya telah bernadzar i’tikaf selama sehari dan semalam.”. Lantas beberapa ulama yang lain –ada- yang menyebutkan bahwa perintah Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- kepada Umar untuk beri’tikaf, menepati nadzarnya, adalah pada siang hari, dan bukan pada malam harinya[Musykil Atsaar]. Namun apapun pernyataan ulama mengenai hal tersebut, yang pasti bahwa nadzar Umar –radiyallahu ’anhu- untuk beri’tikaf bukanlah –semata- pada malam hari, sehingga keterangan tentang nadzar Umar ini tidaklah sah dijadikan hujjah akan tidak dipersyaratkannya puasa ketika beri’tikaf. –Wallahu a’lam-

3. Memperkuat keterangan bahwa Umar –radhiyallahu ’anhu- tidaklah ber-i’tikaf melainkan dengan berpuasa adalah keterangan-keterangan dari anak Beliau (Abdullah bin Umar –radhiyallahu ’anhuma-) sebagai orang yang meriwayatkan tentang nadzar ayahnya; dimana disebutkan dalam keterangan-keterangan itu bahwa puasa adalah salah satu rukun dari sahnya ibadah i’tikaf. Keterangan yang dimaksud adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu ’Abbas dan Ibnu Umar –radiyallahu ’anhuma-, keduanya berkata;

لا جوار إلا بصوم

”Tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa.[Musykil Atsaar]”

Adapun pernyataan mereka bahwa ”malam hari bagi orang yang beri’tikaf sama dengan siang harinya.”, maka bila puasa itu adalah suatu yang wajib bergandengan dengan i’tikaf, sungguh hal itu telah batal dengan i’tikaf yang dilakukan di malam hari. Maka jawaban terhadap argumen ini bahwa terkadang seorang yang i’tikaf keluar dari masjid karena sebuah hajat, baik untuk buang air besar atau buang air kecil, dan lain sebagainya. Namun meskipun ia berada di luar masjid, tidaklah hal itu membatalkan i’tikafnya. Bila hal ini dikatakan kepada seorang yang dengan sengaja keluar dari masjid karena hajat yang dibenarkan, maka sepantasnyalah hal yang sama dikatakan kepada seorang yang beri’tikaf di malam hari; ketika itu ia tidak berpuasa, karena demikianlah ketetapan agama, dan bukan merupakan faktor kesengajaannya.

Adapun pernyataan mereka bahwa di bulan Ramadhan tidak dibolehkan meniatkan puasa selain puasa Ramadhan, maka mungkin dikatakan –wallahu a’lam- bahwa hal yang disebutkan tidaklah sama sekali membatalkan rukun puasa bagi seorang yang beri’tikaf. Dikatakan demikian karena puasa yang dimaksud adalah mutlak puasa. Olehnya, seorang yang beri’tikaf, sedang ketika itu ia berpuasa -apapun jenis puasanya-; benarlah ketika itu dinyatakan bahwa ia beri’tikaf dalam keadaan berpuasa, dan ketika itulah dinyatakan bahwa i’tikafnya adalah sah.

Demikianlah beberapa argumen yang disampaikan oleh golongan ulama yang menetapkan puasa sebagai salah satu rukun dari i’tikaf. Syaikh Nashiruddin al Baani –rahimahullah- berkata; ”Dan diantara syarat-syarat i’tikaf adalah puasa. Al-imam Ibnu Al-qayyim berkata; “Tidak dinukil satu pun riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- pernah beri’tikaf dalam keadaan tidak berpuasa, bahkan Aisyah -pernah- berkata;

“لا اعتكاف إلا بالصوم”

“Tidak ada i’tikaf, melainkan yang dilakukan berbarengan dengan puasa.”. Demikian inilah pendapat yang lebih tepat menurut mayoritas ulama.”.

Maka sebagai kesimpulan, bahwa hal-hal yang wajib terpenuhi dalam ibadah i’tikaf adalah;
1. Niat
2. Menetap di masjid jama’ah bagi orang-orang yang wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah.
3. Berpuasa

Kapan Awal Waktu Bagi Seorang Yang Ingin Beri’tikaf Masuk Ke Masjid ?

Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang kapan awal masuknya seseorang yang ingin beri’tikaf ke dalam masjid.

Jumhur ulama –diantaranya, imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’ie, dan imam Ahmad- berpendapat bahwa orang yang memulai i’tikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam.

Ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa i’tikaf baru dimulai sesudah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah –radiyallahu ’anha-:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Adalah Nabi –shallallahu ’alaihi wasallam- jika hendak beri’tikaf, Beliau shalat shubuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” [HR. Muslim]

Dari kedua pendapat ini, maka yang lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pendapt dari mayoritas ulama. Beberapa alasannya adalah;

1. Hitungan hari dalam penanggalan hijriah dimulai dari malam. Olehnya maka seorang yang yang ingin beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hendaknya memulai hari i’tikafnya sebelum matahari terbenam pada malam ke-21.
2. Salah satu tujuan melaksanakan ibadah i’tikaf adalah mendapatkan lailatul qadr yang diprediksikan jatuh pada sepuluh malam ganjil di akhir bulan Ramadhan, dan malam ke-21 termasuk didalamnya. Olehnya, bila seorang masuk ke masjid pada subuh harinya, maka terlewatlah satu malam yang diprediksikan bahwa di malam itulah lailatul qadr akan turun. Karena itu, pendapat dari mayoritas ulama dalam masalah ini adalah lebih sesuai dan hati-hati.

Adapun hadits Aisyah –radiyallahu ’anha- yang telah disebutkan, maka beberapa ulama ada yang menakwilkannya;

• Diantara takwilnya menyatakan bahwa maksud dari hadits itu adalah Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- mulai masuk ke dalam tempat yang telah Beliau sediakan untuk ber’itikaf di dalam masjid ketika Beliau telah melaksanakan shalat subuh. Namun awal masuknya Beliau ke masjid adalah sebelum matahari terbenam[106].
• Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa masuknya Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- ke dalam masjid tempat Beliau melaksanakan i’tikaf adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah –radhiyallahu ’anha- adalah pada waktu subuh. Namun yang dimaksud dengan waktu subuh adalah subuh ke-20 dari Ramadhan, dan bukan subuh ke-21 sebagaimana pendapat dari kelompok ke-2 yang telah disebutkan. Menguatkan hal ini adalah riwayat dari Abu Sa’id –radhiyallahu ’anhu-;

اعْتَكَفْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشْرِينَ فَخَطَبَنَا وَقَالَ إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ

“Kami pernah beri’tikaf bersama Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- pada sepuluh pertengahan dari bulan Ramadhan. Beliau keluar di waktu subuh yang ke-20, dan kemudian berkhutbah dengan mengatakan, ’Sesungguhnya lailatul qadr itu telah diperlihatkan kepadaku. Namun kemudian saya dibuat lupa akan waktu turunnya lailatul qadr itu. Tetapi carilah malam tersebut pada sepuluh malam ganjil yang terakhir dari bulan Ramadhan’.”[HR. Bukhari].

Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah disebutkan, maka –wallahu a’lam- pendapat yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa awal waktu masuknya seorang yang hendak beri’tikaf adalah sebelum terbenamnya matahari di hari yang ia niatkan untuk mulai beri’tikaf pada saat itu. Namun jika ia masuk ke masjid tempatnya beri’tikaf sehari sebelum waktu i’tikafnya, yaitu pada subuh, maka yang demikian itu adalah lebih baik sebagaimana hadits Aisyah dan hadits Abi Sa’id –radhiyallahu ’anhuma-[Lihat Syarhu Zaad Al Mustaqni’e, kitaab As Shiyaam, oleh Syaikh Hamd bin Abdullah Al Hamd].

Bagi Yang Berniat I’tikaf Sepuluh Hari Akhir di Bulan Ramadhan, Kapankah ia dianjurkan Keluar Dari Tempat I’tikafnya ?

Dalam masalah ini, banyak ulama memandang bahwa waktu yang afdhal baginya keluar dari tempat i’tikafnya untuk kembali ke rumah adalah bersamaan dengan waktu berangkatnya mereka ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ’iedul fithri. Mereka keluar dari masjid untuk shalat ‘ied, dan setelahnya mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Diriwayatkan dari imam Malik –rahimahullah-;

أَنَّهُ رَأَى بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا اعْتَكَفُوا الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ لَا يَرْجِعُونَ إِلَى أَهَالِيهِمْ حَتَّى يَشْهَدُوا الْفِطْرَ مَعَ النَّاسِ

”Beliau menyaksikan beberapa ulama –di zamannya-, mereka tidak pulang ke keluarga-keluarganya selepas i’tikaf melainkan setelah mereka usai melaksanakan shalat ’ied bersama kaum muslimin.”[Al Muwattha’].

Kata ulama, bahwa salah satu hikmah disenanginya hal ini adalah agar ada kelanjutan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Maksudnya bahwa selepas i’tikaf, langsung dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat i’edul fithri[Lihat As Syarhu al Kabiir, oleh Ad Dirdiir].

Bolehkah Menjenguk Orang Sakit Atau Mengantar Jenazah?.
I’tikaf adalah ibadah yang memiliki tatacara pelaksanaan khusus. Maka salah satu kekhususan ibadah ini adalah syari’at untuk tidak berinteraksi dengan segala hal yang berhubungan dengan keduniaan. Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِى إِلَىَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ

“Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- beri’tikaf, (dan akan merapikan rambutnya) Beliau mendekatkan kepalanya kepadaku (Aisyah, yang berada di kamar, di luar mesjid), lantas saya menyisir rambut Beliau. Beliau tidaklah kembali ke rumahnya, melainkan karena adanya hajat manusiawi.”[HR. Abu Daud]. Ibnu Qudamah –rahimahullah-;

وَالْمُرَادُ بِحَاجَةِ الإِنْسَانِ الْبَوْلُ وَالْغَائِطُ, كَنَّى بِذَلِكَ عَنْهُمَا; لأنَّ كُلَّ إنْسَانٍ يَحْتَاجُ إلَى فِعْلِهِمَا, وَفِي مَعْنَاهُ الْحَاجَةُ إلَى الْمَأْكُولِ وَالْمَشْرُوبِ, إذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مَنْ يَأْتِيهِ بِهِ فَلَهُ الْخُرُوجُ إلَيْهِ إذَا احْتَاجَ إلَيْهِ … وَكُلُّ مَا لا بُدَّ لَهُ مِنْهُ وَلا يُمْكِنُ فِعْلُهُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَهُ الْخُرُوجُ إلَيْهِ, وَلا يَفْسُدُ اعْتِكَافُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُطِلْ اهـ.

“Maksud dari pernyataan Aisyah –radhiyallahu ‘anha- “Beliau tidaklah kembali ke rumahnya, melainkan karena adanya hajat manusiawi” adalah hajat untuk makan dan minum jika tidak ada orang yang datang mengantarkan makanan dan minuman itu kepadanya … dan segala hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang di mesjid, maka boleh saja seorang keluar dari mesjid untuk melakukannya, dan hal tersebut tidaklah merusak i’tikafnya selama ia tidak membatalkannya.”[Al Mughni].

Demikian beberapa hal terkait dengan hukum I’tikaf. Semoga Allah memberi taufikNya kepada seluruh kaum muslimin untuk dapat lebih maksimal dalam memanfaatkan setiap waktunya di bulan mulia ini, khususnya di 10 malam terakhir ini.

 

____________

(1) Diantara dalil disyari’atkannya I’tikaf di luar bulan Ramadhan adalah keumuman firman Allah;

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ [البقرة/125]

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.” (al Baqarah; 125), dan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah suatu ketika beri’tikaf selama sepuluh hari di bulan Syawwal, sebagai ganti dari I’tikaf Ramadhan yang beliau tinggalkan –ketika itu-. (HR. Bukhari)

 

2018-06-21T12:53:17+00:00 5 June 2018|Artikel Islam|Comments Off on Hukum-Hukum Tentang I’tikaf