Sang Pencerah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Aash radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mencabut ilmu agama itu dengan menariknya sekonyong-konyong dari dada hamba-hamba Nya. Namun Ia angkat ilmu agama itu dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika Ia tidak lagi menyisakan satupun ulama, maka orang-orang disaat itu mengangkat pemimpin-pemimpinnya dari kalangan orang-orang bodoh; para pemimpin itu pun ditanya tentang masalah-masalah agama, lantas mereka memberi fatwa tanpa landasan ilmu yang benar, dengannya mereka sesat dan menyesatkan.” .

 

Ulama, Mereka Adalah Karunia Allah dan Simbol Agama

Keberadaan ulama dalam sebuah komunitas –secara khusus- dan di dunia –secara umum- adalah satu diantara nikmat besar yang Allah karuniakan kepada manusia, bahkan kepada alam raya secara umum. Olehnya, maka seluruh makhluk akan memintakan ampun bagi para ulama, tersebab karena manfaat yang mereka berikan, tidak saja kepada manusia tetapi juga kepada seluruh alam. Manfaat yang dimaksud bukanlah manfaat yang bersifat nominal angka dalam bentuk rupiah, dollar atau real. Tetapi manfaat yang dimaksud adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris sekalian nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak juga dirham kepada ummat. Warisan mereka hanyalah ilmu agama. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagiannya yang banyak.” .

 

Karakter Ilmu Agama dan Keutamaan Para Penyandangnya

Ilmu agama, dalam tinjauannya sebagai sebuah disiplin ilmu, memiliki karakter yang berbeda dengan disiplin ilmu keduniaan. Perbedaan itu sudah nampak mulai dari hulu hingga hilirnya. Dari hulu, hukum menuntut ilmu agama adalah wajib. Sebagaimana bagi seorang yang menuntutnya, pun wajib menjalaninya dengan ikhlas, semata mengharap keridhaan Allah. Di hilir, parameter keberhasilan seorang penuntut ilmu agama tidaklah dinilai dari gelar kesarjanaan yang berhasil diraihnya. Tetapi parameter yang dijadikan acuan adalah sejauh mana ilmu yang dimilikinya dapat mendekatkannya kepada Allah, bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat bagi selainnya.

Mengetahui dan mengingat perbedaan karakter itu, maka wajarlah bila dalam banyak keterangan agama, secara khusus Allah memuji para penuntut ilmu agama dan para penyandangnya. Allah k berfirman;

{أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون} [الزمر: 9]

(Apakah mereka yang hanya meminta kepada Allah diwaktu susah dan melupakaNya diwaktu senang adalah lebih baik) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui (kewajiban-kewajibannya kepada Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?.” .

{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} [المجادلة: 11]

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِب

“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan baginya satu diantara jalan-jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena ridha kepada para penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seluruh makhluk di langit dan di bumi, bahkan hingga ikan di dasar lautan, akan memintakan ampun bagi para penuntut ilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang penyandang ilmu agama dari yang selainnya ibarat keutamaan bulan di malam purnama atas sekalian bintang di langit.”.” .

 

Mereka Sudah Semakin Langka

Para ulama, keberadaan mereka dari masa ke masa semakin langka. Maka benarlah jika dinyatakan dalam sebuah kata hikmah;

وقد كانوا إذا عدوا قليلاً … فقد صاروا أقل من القليل

“Dahulu jumlah mereka adalah sedikit. Dan ternyata saat ini, jumlah mereka lebih sedikit dari yang sedikit itu.” .

Keberadaan mereka yang semakin langka ini, bagi orang-orang beriman –tentu- adalah fenomena yang sungguh sangat mengkhawatirkan. Terlebih dengan mencermati informasi yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Allah Ta’ala telah mewafatkan mereka semuanya (para ulama), tiadalah tersisa di muka bumi ketika itu melainkan orang-orang bodoh yang dijadikan acuan oleh masyarakat dalam penetapan-penetapan hukum. Dengan dasar ketidakpahamannya, para pemimpin itu menetapkan hukum yang salah, hingga mereka sesat dan menyesatkan banyak orang.

 

Fenomena Akhir Zaman

Mengangkat orang-orang yang tidak berkompetensi menduduki posisi-posisi strategis, sebagai ulama, pendakwah, penentu kebijakan dan yang semisalnya; seluruh hal ini adalah sebuah fenomena yang tidak dapat kita pungkiri telah ada ditengah-tengah kita.

Betapa hati kita sakit dan tersayat menyaksikan orang-orang yang diklaim sebagai cendikiawan muslim itu berdebat dalam masalah-masalah Islam yang mendasar dan seharusnya tidak lagi boleh diperdebatkan karena telah menjadi masalah baku (min at tsawaabit fil Islam). Betapa hati kita sakit dan tersayat menyaksikan kelompok-kelompok sempalan yang mengatasnamakan dirinya Islam dilegalkan, diantaranya dengan pemelintiran sejumlah keterangan-keterangan agama yang dilakukuan oleh mereka yang diklaim sebagai tokoh pembaharu Islam. Dan betapa hati kita akan merasa sedih melihat saudara-saudara kita yang justru ingin menegakkan sunnah; lantas difitnah, dicaci, dan dikucilkan.

Fenomena akhir zaman, yang diantaranya ditandai dengan semakin berkurangnya para ulama, sudah seharusnya menjadi pemicu bagi kita untuk memiliki andil positif dalam upaya meregenerasi mereka. Mempersiapkan kader-kader yang handal untuk menghadapi dan menjawab segala syubhat yang ditiupkan oleh musuh-musuh Islam. Demikian juga memfasilitasi mereka agar dapat lebih berkonsentrasi dengan “ilmu” dan tidak justru disibukkan dengan urusan-urusan keduniaan lainnya; baik dimasa pendidikannya maupun setelah ia memasuki dan berada pada jenjang setelahnya.
Dengan hadirnya generasi-generasi mumpuni tersebut diharapkan dapat menjadi pencerah dan pemberi kabar gembira ditengah ummat yang saat ini tengah dilanda berbagai cobaan, baik dari kalangan eksternal ataupun dari internal yang mencoba merusak dan mencabik-cabik mereka dari dalam.

 

Kesimpulan

Dari pemaparan hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu ini, dapat dipetik beberapa pelajaran. Diantaranya adalah ;

1. Dalam hadits ini dijelaskan keutamaan ilmu dan penyandangnya dan celaan terhadap sifat bodoh dan penyandangnya.
2. Anjuran untuk menuntut ilmu agama.
3. Keberadaan para ulama adalah satu diantara nikmat Allah yang sangat besar.
4. Tugas para ulama adalah menjelaskan agama kepada seluruh lapisan masyarakat. Dan kewajiban masyarakat awwam adalah kembali merujuk dan bertanya kepada para ulama dalam masalah-masalah agama.
5. Lenyapnya para ulama adalah satu diantara fenomena akhir zaman.
6. Melakukan upaya regenerasi ulama adalah satu diantara kewajiban (fardhu) kifayah bagi ummat; bila telah ada yang melakukannya, gugurlah kewajiban yang lainnya. Namun bila seluruh orang telah mengabaikannya, maka berdosalah seluruhnya.

Akhirnya hanya kepada Allah ta’ala harapan dan angan. Semoga Ia melindungi kita dari fitnah dan menjadikan kita sebagai satu dari mereka yang memiliki andil dalam menghidupkan nilai dan norma-norma agama ditengah derasnya arus penyesatan dan pembodohan. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolong. Wa hasbunallah wa ni’mal wakiil.

 

(Muh. Irfan Zain, Lc)

Referensi
1. Al Quran al Kariim
2. Al Jaami’e Al Musnad As Shahiih, oleh Imam Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al Bukhari.
3. Sunan Abi Daud, oleh Imam Sulaiman bin al Asy’ats Abu Daud as Sajastaani al Azdiy
4. ‘Idzhaat wa ‘Ibar min Ahaadiits Sayyid al Basyar shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Syaikh Jabir bin Musa bin Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr al Jazaairiy
5. http://islamport.com/w/adb/Web/678/23.htm

2018-07-08T19:55:08+00:00 7 July 2018|Artikel Islam|Comments Off on Sang Pencerah